Me Before You

15507958

Judul: Me Before You
Penulis: Jojo Moyes
Penerbit: Penguin Books
Publikasi: 5 Januari 2012
Tebal: 480 halaman

…I told him a story of two people. Two people who shouldn’t have met, and who didn’t like each other much when they did, but who found they were the only two people in the world who could possibly have understood each other.”

–Jojo Moyes, Me Before You, Chapter 26

Gue nggak akan tergerak baca buku ini kalau nggak lihat trailer filmnya, karena kalau cuma baca sinopsis dan preminya, mata gue nggak akan nyangkut bahkan cuma 10 detik. Buat yang selama ini tinggal di bawah batu, check out the trailer below!

Obviously, yang bikin gue tertarik lebih karena EMILIA CLARKE! SAM CLAFLIN! THEY’RE SO PERFECT I’M GONNA DIEEE!

Nah, filmnya udah rilis bulan Juni kemarin. Sebagai bookworm berdedikasi, gue memutuskan buat nyari bukunya dan baca dengan tekun sebelum nonton filmnya. Sumpah, gue pede banget pas buka halaman pertama buku ini kalo ini bacaan superringan yang cucok dibaca sore-sore hujan sambil gelung-gelung selimut di kasur. Jumlah halamannya nggak terlalu ngeri, tapi nggak bisa dibilang dikit juga, jadi waktu itu gue pikir baca sebagian dulu trus lanjut besok.

Gue salah, men. Gue kalap ngabisin malam itu juga. Dan begitu kelar, kira-kira beginilah kondisi psikis gue:

Bacaan ringan, my ass!

Continue reading

The Emperor’s Soul

13578175

Judul: The Emperor’s Soul
Penulis: Brandon Sanderson
Penerbit: Tachyon Publications
Publikasi: 10 Oktober 2012
Tebal: 175 halaman

No matter how good you were, someone was better. Live by that knowledge, and you would never grow so confident that you became sloppy.

–Brandon Sanderson, The Emperor’s Soul, Day Two

Another day, another review, another Brandon. Yayy!

Masih dalam misi mulia menyelesaikan buku-buku (khususnya Cosmere) Brandon Sanderson, review kali ini akan membahas buku yang harusnya udah gue baca dua tahun lalu tapi ya maklumin ya seorang Delvirah emang gampang terdistraksi anaknya. Aanyways, masih ingat novel perdana Brandon yang, despite its weaknesses, tetep aja breathtakingly awesome, at least menurut gue? Yes, Elantris! Nah, The Emperor’s Soul ini mengambil setting di planet yang sama dengan happenings di Elantris, yaitu planet Sel, namun dengan wilayah yang berbeda. Magic system-nya juga beda, walau agak mirip.

The Emperor’s Soul adalah novella, bukan novel seutuhnya *halah*. Tapi, bedanya dengan beberapa novella Brandon yang belakangan ini gue baca, The Emperor’s Soul lumayan tebal. Di ebook tersayang gue dengan font superkecil nan imut-imut itu, tebalnya 101 halaman. Bandingkan dengan Perfect State yang sekitaran 50 dan Sixth of the Dusk yang 70-an. Jadi, Brandon punya space yang lebih banyak untuk menggali dunia ciptaannya dan karakterisasi tiap tokohnya.

Kisahnya dimulai dengan karakter utama kita, Shai, yang sedang menimbang-nimbang nasibnya di penjara. Doi adalah seorang Forger, yaitu orang yang bisa membuat kopian dari basically everything dengan cara memahami pribadi dan sejarah benda tersebut. Hmm, this is a lot harder to explain in words. Intinya, kalo lo punya meja yang udah bulukan, retak sana-sini, Shai bisa mengubah meja tersebut jadi kayak baru dibeli dengan cara meyakinkan si meja kalo dia adalah meja yang baru dibeli.

What, meyakinkan? Pribadi? Dhee, you do realize a table is a thing, right?

Continue reading

Perfect State

25188109

Judul: Perfect State
Penulis: Brandon Sanderson
Penerbit: Dragonsteel Entertainment
Publikasi: 31 Maret 2015
Tebal: 87 halaman

A person needed to experience real danger or they would never find joy in excelling. There had to be a risk of failure, the chance to die.

–Brandon Sanderson, Perfect State, Chapter 2

Hiya, pals! We meet again in another edition of This Review Should Have Been Posted A Month Ago But I Was Too Easily Distracted So Here We Are.

SORRY NOT SORRY

Jadi tanpa menunda-nunda lagi, yuks langsung terjun langsung ke yet another novella by Brandon Sanderson yang masih masuk kategori baru. Duude, baru dirilis tahun lalu ini. Wee!

Karakter utama kita adalah seorang kaisar-tuhan (hmm kedengeran agak aneh di-translate. Okeh. Bahasa aslinya, God-Emperor) yang bernama Kairominas. Dia memerintah di sebuah kerajaan abad pertengahan yang dipenuhi makhluk-makhluk ajaib fantasi lainnya… you named it. Dan dia sedang bosan. Well, nggak heran juga sih doi bosan. Secara umurnya udah 300++ tahun. Dan lebih dari setengahnya dihabiskan untuk memerintah kerajaan tersebut. Tahu frase, ‘been there, done that’? This guy has literally done it all. Dalam kasus ini, nggak heran kebosanan akut melandanya.

KOK UMURNYA BISA LEBIH DARI 3 ABAD GITU??” you asked?

Great question! Mari masuk ke world building-nya Brandon. Yeah, emang di awal gue bilang si Kai ini memerintah sebuah kerajaan di abad pertengahan dengan makhluk-makhluk fantasi, tapi itu nggak berarti bahwa setting novella ini adalah abad pertengahan.

Geddit?

Continue reading

Sixth of the Dusk

22739503

Judul: Sixth of the Dusk
Penulis: Brandon Sanderson
Penerbit: Dragonsteel Entertainment
Publikasi: 28 Juni 2014
Tebal: 96 halaman

This is the symbol of your ignorance. On the Pantheon Islands, nothing is easy, nothing is simple. That plume was placed by another trapper to catch someone who does not deserve to be here, someone who thought to find an easy prize. You cannot be that person. Never move without asking yourself, is this too easy?

–Brandon Sanderson, Sixth of the Dusk

Perubahan.

Rasanya itu yang menjadi topik yang ingin dibahas Brandon di novellanya kali ini. Perubahan selalu membawa pro dan kontra, dan sometimes itu juga membawa hal yang baik, sometimes hal yang buruk.

Anjrit sejak kapan gue jadi filosofis gini di review yak? Lempar meme dulu lah biar asoy geboy.

Kurang lebih inilah gue saat ini…

Sixth of the Dusk adalah sebuah novella — bukan novel. Dan kali ini Brandon nggak lagi high pas nulisnya, jadi novellanya juga masih masuk kategori wajar tebelnya. Buku ini mengambil lokasi di sebuah planet yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya (kalo nggak salah namanya First of the Sun) dengan sistem magic yang totally baru. Menurut Brandon, novella ini memiliki setting waktu di masa depan — sangat, sangat, sangat jauuuuh di masa depan.

Awalnya gue pikir ada makna filosofis di balik judulnya kan. Ternyata…. itu nama orang. Yes. Nama orang. Sixth of the Dusk adalah nama orang. Literally.

Continue reading

The Bands of Mourning (Mistborn, #6)

18739426

Judul: The Bands of Mourning (Mistborn, #6)
Penulis: Brandon Sanderson
Penerbit: Tor Books
Publikasi: 26 Januari 2016
Tebal: 448 halaman

A man found himself when he was alone. You only had one person to chat with, one person to blame.

–Brandon Sanderson, The Bands of Mourning (Mistborn, #6), Chapter 16

Rasanya udah bertahun-tahun sejak gue baca trilogi pertama Mistborn yang sukses mengocok-ngocok emosi gue. Sejak The Hero of Ages, nggak satupun buku lanjutan Mistborn yang sukses nge-mindfuck gue lagi. The Alloy of Law? Interesting, tapi kurang greget. Shadows of Self? Emotional punch-nya sukses, but that’s it.

Nah. Inilah gue ketika kelar baca The Bands of Mourning:

Oke jadi sebelum gue masuk lebih jauh, allow me to elaborate sedikit mengenai Mistborn: Era Two ini yaps. Inget kan yang gue bilang kalo Brandon merencanakan untuk bikin tiga trilogi Mistborn? Nah, Mistborn: Era One adalah Vin, Elend, Kelsier, Sazed, and the crew. Mistborn: Era Two adalah Wax, Wayne, Marasi, Steris, and the genk — TAPI OH TAPI, rupanya Era Two ini dimulai dari Shadows of Self, bukannya The Alloy of Law. AoL adalah semacam jembatan dari trilogi pertama ke trilogi kedua. That being said, The Bands of Mourning ini bukanlah buku terakhir dari Era Two, nuh-uh. Kita akan disuguhi buku pamungkas dengan judul The Lost Metal yang estimasinya akan rilis pada tahun 2017.

Mistborn: Era 3 rencananya akan memiliki setting 1980. Atau 1940. Atau nggak tahu deh kita tunggu aja hasil tulisannya Brandon. At this point, I’ll buy everything he writes. Again, even his grocery list.

Continue reading

Inteligensi Embun Pagi (Supernova, #6)

28937283

Judul: Inteligensi Embun Pagi (Supernova, #6)
Penulis: Dee Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka
Publikasi: 26 Februari 2016
Tebal: 724 halaman

Akulah awal dan engkaulah akhir
Meniadakan kita berdua
Adalah satu-satunya cara kita bisa bersama.

–Dee Lestari, Inteligensi Embun Pagi (Supernova, #6)

Jadi gini ceritanya.

Pada suatu siang yang cerah ceria di tanggal 26 Februari 2016, gue lagi berkunjung ke Toko Gunung Agung sama enyak dan kakak gue. Gue sama sekali nggak ada inkling kalo itu adalah hari spesial. FYI, at that moment, gue lagi sibuk persiapan keberangkatan angkatan 58 LPDP, jadi kurang lebih selama 2 bulan gue ibaratkan living under a rock. Jangankan baca buku, nonton berita di tipi aja nggak sempet. Padahal emak gue saban hari nontonin MetroTV udah kayak minum obat.

Eeniwei, balik ke cerita.

Jadi siang itu gue mampir ke TGA buat beli perlengkapan pritilan pernikahan kakak gue. Lagi nyari-nyari kertas label buat nempelin undangan, tiba-tiba mata gue tertumbuk ke setumpukan buku tebel warna putih yang kece berat ada kinclong-kinclong hologram gitu. Dan napas gue seketika tercekat pas baca judul yang terpampang gede-gede di sampulnya.

INTELIGENSI EMBUN PAGI.

DUDE. INTELIGENSI EMBUN PAGI TERBIT DAN GUE NGGAK TAHU SAMA SEKALI. BLASPHEMY!!! SHAME ON ME!

Okay, long story short, akhirnya gue memutuskan untuk beli IEP. Walaupun minggu selanjutnya, dari tanggal 29 Februari sampai 05 Maret gue tersita dengan PK LPDP. Trus habis itu gue terkapar selama 3-4 hari karena ini badan lemah banget sumpah. Dan gue baru baca buku ini hari Minggu kemarin. Eh apa Senin? Ya pokoknya itulah.

Inteligensi Embun Pagi, atau kita singkat IEP aja biar imut-imut, adalah instalmen terakhir dari seri Supernova karya Dee Lestari. To say that I have been waiting for this book is simplifying the condition. Sejak pertama jatuh cinta mati-matian sama KPBJ, ini adalah hari yang gue tunggu-tunggu. Untuk akhirnya mengetahui apa yang terjadi pada Diva, apa akhir pencarian Bodhi, ngakak bareng Etra dan geng Elektra Pop, ikut mencari-cari keberadaan Firas bersama Zarah, dan berbatak-batak ria sama Alfa… gengs, this is the book with all the answers.

Or, at least, that was how I thought it should be.

Kita elaborate ceritanya dulu, ya.

IEP picks up where Gelombang left off. Alfa melanjutkan pencariannya bersama sosok yang sukses bikin kita jejeritan di akhir Gelombang, which is Kell. Yups, Kell adalah Infiltran — which means satu crackpottery gue yang muncul habis baca Gelombang terbukti benar. YES! Tapi bukan Kell aja yang identitasnya ketahuan. Ada beberapa sosok yang kita tahu di buku-buku sebelumnya, dan rupanya mereka adalah Infiltran dan/atau Sarvara. Kalau Infiltran sih seneng yak. Yang terbukti jadi Sarvara ini… hanjer. Ada satu tokoh yang di-reveal ternyata adalah Sarvara cukup awal di cerita, dan gue siyok sesiyok-siyoknya. Let’s say bahwa setiap tokoh yang pernah kita temui di buku-buku Supernova sebelumnya, be it main character atau secondary atau bahkan tertiary character, ternyata kalo nggak Infiltran, Sarvara, yaa Harbinger.

Continue reading