Harry Potter and the Cursed Child

29056083

Judul: Harry Potter and the Cursed Child
Penulis: Jack Thorne
Penerbit: Little Brown
Publikasi: 31 Juli 2016
Tebal: 343 halaman

In every shining moment of happiness is that drop of poison: the knowledge that pain will come again. Be honest to those you love, show your pain. To suffer is as human as to breathe.

-Jack Thorne, Harry Potter and the Cursed Child, Act 4, Scene 4

Greetings, my fellow bookreaders! Dhee is back, and back for good! *finger crossed* *lah kok pake fingers crossed* *berarti nggak for good dong* *ywdc jangan bawel* *plakk*

As promised, begitu menemukan kelonggaran di jadwal kehidupan yang semakin berumur semakin penuh lika-liku ini *halah*, gue akan kembali posting review buku. Dan kali ini, post pertama setelah hiatus sampai setahun adalah… *DRUMROLLS* HARRY POTTER AND THE CURSED CHILD!

YAAAS GURL DHEE RETURNS WITH A BANG!

……biarpun bukunya udah keluar dari tahun lalu. BODOAMAT.

Buku ini adalah buku terakhir yang gue santap habis sebelum berangkat ke Aberdeen tahun lalu. Masih inget banget excitement waktu nunggu jadwal rilis buku ini, trus pre-order di Kinokuniya, trus pas tanggal 31 Juli dengan bangganya nenteng plastik belanjaan ke rumah. Good times. Trus nyampe rumah langsung masuk kamar dan dibaca dengan penuh penghayatan. Oh, good times, indeed.

Sejujurnya, ekspektasi gue sebelum baca buku ini tinggi banget. Gimana enggak, Harry Potter is the series that grew up with me; I even refer to it as my childhood. Banyak seri fantasi lain yang gue akhirnya jatuh sayang dan even claim lebih bagus daripada Harry Potter. But Harry Potter is Harry Potter, and it has a special place in my heart. Jadi kebayang dong, setelah 10 tahun berlalu menutup chapter epilogue di Deathly Hallows dan dapet kabar kalo ada the eighth story after all. A fangirl can only take so much!

Jadi bayangkan reaksi gue ketika, masih dengan bubbling excitement, ngeh sama tulisan ini di cover:

BASED ON AN ORIGINAL NEW STORY BY
J. K. ROWLING

JOHN TIFFANY & JACK THORNE

Rasa hati udah mulai nggak enak tuh. Tapi masih berusaha berpikiran positif. Kali aja itu dua orang produsernya. It’s JKR’s original story, right? Her story.

Masuklah kita ke dedication page. Dan perjuangan gue untuk berpikiran positif langsung runtuh baca dedication dari J. K. Rowling herself.

J. K. ROWLING
To Jack Thorne,
who entered my world
and did beautiful things there.

Continue reading

Advertisements

Greetings!

Haloo, pengunjung Egg & Co. yang setia dan budiman!

Yes, Dhee is still alive. No worries. Barely, though. 😛

Sebelumnya, gue mau minta maaf udah genap setahun mengabaikan blog ini. Banyak yang mengunjungi, banyak yang comment, dan banyak juga yang request untuk review buku. I am still here, monitoring. Tapi maaf banget belum bisa berbuat banyak karena… real life gets in the way. Classic reasoning, huh? But I will elaborate here.

Semenjak September 2016, gue pindah domisili jadi di Aberdeen, sebuah kota di sebelah barat Scotland, UK. Yups, I’m continuing my studies into a masters programme. Sebelum pindahan, gue nggak nyangka kalau master studies di UK itu se-hectic ini. Kirain masih bisa baca novel di weekend buat refreshing. Kirain masih bisa lanjut nulis novel/novella. Apa daya, even weekend pun masih dihantui belajar dan ngerjain assessment. Dan, for the past 3 months, dissertation.

Thank God I’m reaching the end, though. Status gue sebagai mahasiswa postgrad akan selesai bulan depan, dan wisuda gue akan berlangsung di bulan November. Begitu semua kebisingan disertasi selesai, insya Allah gue akan melahap buku-buku dan me-review mereka semua.

And oh, forgot one thing. Remember Harry Potter and the Cursed Child? I have a separate review for the script and the play itself. So stay in tune! *halah* *lo kata radio*

Again, terima kasih banget buat para pengunjung Egg & Co. Gue seneeeng banget baca komen-komennya, apalagi ada yang bilang kalo review gue bikin tertarik untuk baca buku tertentu. That is my goal, thank you for brightening up my day. *sobs* Dan buat yang titip review, mohon kesabarannya, ya!

In the mean time, Dhee is going back to her cave again. Dissertation takes the life out of her, see.

See you next month! *hopefully*

 

Dhee.

Atau Delvirah juga boleh. 🙂

Me Before You

15507958

Judul: Me Before You
Penulis: Jojo Moyes
Penerbit: Penguin Books
Publikasi: 5 Januari 2012
Tebal: 480 halaman

…I told him a story of two people. Two people who shouldn’t have met, and who didn’t like each other much when they did, but who found they were the only two people in the world who could possibly have understood each other.”

–Jojo Moyes, Me Before You, Chapter 26

Gue nggak akan tergerak baca buku ini kalau nggak lihat trailer filmnya, karena kalau cuma baca sinopsis dan preminya, mata gue nggak akan nyangkut bahkan cuma 10 detik. Buat yang selama ini tinggal di bawah batu, check out the trailer below!

Obviously, yang bikin gue tertarik lebih karena EMILIA CLARKE! SAM CLAFLIN! THEY’RE SO PERFECT I’M GONNA DIEEE!

Nah, filmnya udah rilis bulan Juni kemarin. Sebagai bookworm berdedikasi, gue memutuskan buat nyari bukunya dan baca dengan tekun sebelum nonton filmnya. Sumpah, gue pede banget pas buka halaman pertama buku ini kalo ini bacaan superringan yang cucok dibaca sore-sore hujan sambil gelung-gelung selimut di kasur. Jumlah halamannya nggak terlalu ngeri, tapi nggak bisa dibilang dikit juga, jadi waktu itu gue pikir baca sebagian dulu trus lanjut besok.

Gue salah, men. Gue kalap ngabisin malam itu juga. Dan begitu kelar, kira-kira beginilah kondisi psikis gue:

Bacaan ringan, my ass!

Continue reading

The Emperor’s Soul

13578175

Judul: The Emperor’s Soul
Penulis: Brandon Sanderson
Penerbit: Tachyon Publications
Publikasi: 10 Oktober 2012
Tebal: 175 halaman

No matter how good you were, someone was better. Live by that knowledge, and you would never grow so confident that you became sloppy.

–Brandon Sanderson, The Emperor’s Soul, Day Two

Another day, another review, another Brandon. Yayy!

Masih dalam misi mulia menyelesaikan buku-buku (khususnya Cosmere) Brandon Sanderson, review kali ini akan membahas buku yang harusnya udah gue baca dua tahun lalu tapi ya maklumin ya seorang Delvirah emang gampang terdistraksi anaknya. Aanyways, masih ingat novel perdana Brandon yang, despite its weaknesses, tetep aja breathtakingly awesome, at least menurut gue? Yes, Elantris! Nah, The Emperor’s Soul ini mengambil setting di planet yang sama dengan happenings di Elantris, yaitu planet Sel, namun dengan wilayah yang berbeda. Magic system-nya juga beda, walau agak mirip.

The Emperor’s Soul adalah novella, bukan novel seutuhnya *halah*. Tapi, bedanya dengan beberapa novella Brandon yang belakangan ini gue baca, The Emperor’s Soul lumayan tebal. Di ebook tersayang gue dengan font superkecil nan imut-imut itu, tebalnya 101 halaman. Bandingkan dengan Perfect State yang sekitaran 50 dan Sixth of the Dusk yang 70-an. Jadi, Brandon punya space yang lebih banyak untuk menggali dunia ciptaannya dan karakterisasi tiap tokohnya.

Kisahnya dimulai dengan karakter utama kita, Shai, yang sedang menimbang-nimbang nasibnya di penjara. Doi adalah seorang Forger, yaitu orang yang bisa membuat kopian dari basically everything dengan cara memahami pribadi dan sejarah benda tersebut. Hmm, this is a lot harder to explain in words. Intinya, kalo lo punya meja yang udah bulukan, retak sana-sini, Shai bisa mengubah meja tersebut jadi kayak baru dibeli dengan cara meyakinkan si meja kalo dia adalah meja yang baru dibeli.

What, meyakinkan? Pribadi? Dhee, you do realize a table is a thing, right?

Continue reading

Perfect State

25188109

Judul: Perfect State
Penulis: Brandon Sanderson
Penerbit: Dragonsteel Entertainment
Publikasi: 31 Maret 2015
Tebal: 87 halaman

A person needed to experience real danger or they would never find joy in excelling. There had to be a risk of failure, the chance to die.

–Brandon Sanderson, Perfect State, Chapter 2

Hiya, pals! We meet again in another edition of This Review Should Have Been Posted A Month Ago But I Was Too Easily Distracted So Here We Are.

SORRY NOT SORRY

Jadi tanpa menunda-nunda lagi, yuks langsung terjun langsung ke yet another novella by Brandon Sanderson yang masih masuk kategori baru. Duude, baru dirilis tahun lalu ini. Wee!

Karakter utama kita adalah seorang kaisar-tuhan (hmm kedengeran agak aneh di-translate. Okeh. Bahasa aslinya, God-Emperor) yang bernama Kairominas. Dia memerintah di sebuah kerajaan abad pertengahan yang dipenuhi makhluk-makhluk ajaib fantasi lainnya… you named it. Dan dia sedang bosan. Well, nggak heran juga sih doi bosan. Secara umurnya udah 300++ tahun. Dan lebih dari setengahnya dihabiskan untuk memerintah kerajaan tersebut. Tahu frase, ‘been there, done that’? This guy has literally done it all. Dalam kasus ini, nggak heran kebosanan akut melandanya.

KOK UMURNYA BISA LEBIH DARI 3 ABAD GITU??” you asked?

Great question! Mari masuk ke world building-nya Brandon. Yeah, emang di awal gue bilang si Kai ini memerintah sebuah kerajaan di abad pertengahan dengan makhluk-makhluk fantasi, tapi itu nggak berarti bahwa setting novella ini adalah abad pertengahan.

Geddit?

Continue reading

Sixth of the Dusk

22739503

Judul: Sixth of the Dusk
Penulis: Brandon Sanderson
Penerbit: Dragonsteel Entertainment
Publikasi: 28 Juni 2014
Tebal: 96 halaman

This is the symbol of your ignorance. On the Pantheon Islands, nothing is easy, nothing is simple. That plume was placed by another trapper to catch someone who does not deserve to be here, someone who thought to find an easy prize. You cannot be that person. Never move without asking yourself, is this too easy?

–Brandon Sanderson, Sixth of the Dusk

Perubahan.

Rasanya itu yang menjadi topik yang ingin dibahas Brandon di novellanya kali ini. Perubahan selalu membawa pro dan kontra, dan sometimes itu juga membawa hal yang baik, sometimes hal yang buruk.

Anjrit sejak kapan gue jadi filosofis gini di review yak? Lempar meme dulu lah biar asoy geboy.

Kurang lebih inilah gue saat ini…

Sixth of the Dusk adalah sebuah novella — bukan novel. Dan kali ini Brandon nggak lagi high pas nulisnya, jadi novellanya juga masih masuk kategori wajar tebelnya. Buku ini mengambil lokasi di sebuah planet yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya (kalo nggak salah namanya First of the Sun) dengan sistem magic yang totally baru. Menurut Brandon, novella ini memiliki setting waktu di masa depan — sangat, sangat, sangat jauuuuh di masa depan.

Awalnya gue pikir ada makna filosofis di balik judulnya kan. Ternyata…. itu nama orang. Yes. Nama orang. Sixth of the Dusk adalah nama orang. Literally.

Continue reading